Spectrom.co.id – Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah mengembangkan potensi kulit manggis sebagai terapi alternatif kanker payudara. Riset ini membuka peluang besar pemanfaatan bahan alami lokal untuk mendukung pengobatan kanker yang selama ini bergantung pada obat sintetis.
Senyawa Turunan Kulit Manggis Dikembangkan Jadi Kandidat Terapi
Peneliti Ahli Madya dari Pusat Riset Teknologi Radioisotop, Radiofarmaka, dan Biodosimetri (PRTRRB) BRIN, Isti Daruwati, mengembangkan senyawa turunan alfa-mangostin yang diberi nama AMB10. Senyawa ini berasal dari kulit buah manggis dan sedang diteliti sebagai kandidat terapi kanker payudara.
Penelitian tersebut dilakukan bersama Universitas Perjuangan Tasikmalaya dan Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran. Fokus riset ini diarahkan pada kanker payudara yang sensitif terhadap hormon estrogen.
Target Kanker Payudara Tergantung Hormon Estrogen
Kanker ER-Positif Jadi Sasaran Utama
Sekitar 75 persen kasus kanker payudara termasuk jenis ER-positif, yaitu kanker yang pertumbuhannya dipicu oleh hormon estrogen. Pada kondisi ini, hormon estrogen menempel pada reseptor sel kanker dan mempercepat perkembangannya.
Biasanya, terapi yang digunakan adalah tamoksifen, obat yang bekerja menghambat estrogen agar tidak menempel pada reseptor sel kanker. Menariknya, hasil uji laboratorium menunjukkan bahwa struktur kimia AMB10 memiliki kemiripan dengan tamoksifen.
Dikembangkan sebagai Radiofarmaka Teranostik
AMB10 kemudian diberi label radioaktif Iodin-131 (I-131), yang diproduksi dari Reaktor Serbaguna G.A. Siwabessy. Proses ini menghasilkan senyawa radiofarmaka dengan kemurnian tinggi yang mampu mendeteksi sekaligus mengobati sel kanker.
Pengujian laboratorium menunjukkan senyawa ini terakumulasi lebih banyak pada sel kanker payudara yang memiliki reseptor estrogen, sehingga berpotensi menjadi obat teranostik (terapi dan diagnosis sekaligus).
Harapan Besar untuk Pengobatan Kanker di Indonesia
Isti berharap riset yang didanai LPDP Kementerian Keuangan ini dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan terapi kanker payudara berbasis bahan alam Indonesia. Senyawa AMB10 dinilai menjanjikan untuk dikembangkan menjadi obat radioaktif yang lebih terjangkau di masa depan.
Kanker Payudara Masih Jadi Kasus Terbanyak di Indonesia
Data Kasus Kanker Payudara
Menurut Global Cancer Observatory (GCO), kanker payudara menjadi jenis kanker dengan jumlah kasus tertinggi di Indonesia pada 2022, mencapai 66.271 kasus dan menjadi penyebab kematian ketiga akibat kanker.
Kanker ini umumnya berkembang di saluran susu atau lobulus payudara, dan dapat terdeteksi melalui pemeriksaan fisik atau mamografi.
Faktor Risiko dan Pencegahan
Beberapa faktor risiko kanker payudara antara lain:
-
Usia bertambah
-
Riwayat keluarga
-
Mutasi genetik (BRCA1 & BRCA2)
-
Faktor hormonal
-
Riwayat kanker sebelumnya
Upaya pencegahan dapat dilakukan melalui:
-
Deteksi dini dan pemeriksaan rutin
-
Gaya hidup sehat
-
Pola makan seimbang dan olahraga teratur
-
Menghindari rokok dan alkohol
Dengan berkembangnya riset seperti yang dilakukan BRIN, diharapkan pengobatan kanker payudara di Indonesia semakin mandiri dan berbasis inovasi dalam negeri.










