Spectrom.co.id – Korea Utara dikenal memiliki sistem ekonomi yang sangat tertutup dan dikendalikan negara. Meski berstatus sebagai negara bersenjata nuklir, ukuran ekonominya masih tergolong kecil dibandingkan banyak negara lain di dunia.
Pada 2024, nilai produk domestik bruto (PDB) Korea Utara diperkirakan hanya sekitar 26,6 miliar dolar AS. Angka tersebut jauh tertinggal dibandingkan Korea Selatan yang memiliki ekonomi bernilai lebih dari 1,8 triliun dolar AS.
Kondisi ini membuat muncul pertanyaan besar: apakah ekonomi Korea Utara mampu bertahan jika kehilangan dukungan dari China?
Sanksi Internasional Membatasi Aktivitas Perdagangan
Sejak dikenai sanksi internasional akibat program nuklir dan rudalnya, ruang gerak perdagangan Korea Utara semakin sempit. Akibatnya, negara tersebut mengandalkan produksi dalam negeri dan membatasi keterlibatan dalam pasar global.
Kontribusi perdagangan luar negeri terhadap ekonomi Korea Utara relatif kecil jika dibandingkan negara-negara yang menerapkan sistem ekonomi terbuka.
Ketergantungan Korea Utara terhadap China Sangat Tinggi
Dalam praktiknya, hampir seluruh aktivitas perdagangan internasional Korea Utara bergantung pada China. Negeri Tirai Bambu menjadi pemasok utama berbagai kebutuhan penting bagi Pyongyang.
Laporan sejumlah lembaga riset menunjukkan bahwa sebagian besar ekspor dan impor Korea Utara dilakukan melalui China, menjadikan Beijing sebagai mitra ekonomi yang hampir tak tergantikan.
Pasokan Energi dan Kebutuhan Pokok Bergantung pada Beijing
Karena tidak memiliki produksi minyak yang memadai, Korea Utara sangat bergantung pada pengiriman bahan bakar dari China. Selain energi, berbagai produk seperti makanan, mesin industri, tekstil, kendaraan, hingga perangkat elektronik juga banyak berasal dari negara tetangganya tersebut.
Ketergantungan yang tinggi ini memberikan pengaruh ekonomi yang besar bagi Beijing terhadap pemerintahan Kim Jong Un.
Wig dan Rambut Palsu Jadi Produk Ekspor Andalan
Meski memiliki hubungan dagang dengan beberapa negara, nilai ekspor resmi Korea Utara masih sangat terbatas. Salah satu produk yang justru menjadi penyumbang terbesar ekspor adalah wig dan rambut palsu.
Produk tersebut diekspor terutama ke China sebelum dipasarkan kembali ke berbagai negara lain.
Sanksi Membuat Komoditas Tradisional Kehilangan Pasar
Sebelum dikenai sanksi internasional, Korea Utara mengandalkan ekspor batu bara, mineral, dan berbagai sumber daya alam lainnya. Namun pembatasan perdagangan membuat negara itu harus mencari sumber pendapatan alternatif.
Industri rambut palsu berkembang karena tidak termasuk dalam daftar komoditas yang secara langsung dilarang untuk diperdagangkan.
Selain wig, Korea Utara juga mengekspor sejumlah produk lain seperti hasil perikanan, logam, bijih mineral, serta komponen manufaktur dalam jumlah yang relatif kecil.
Ekonomi Bayangan Menjadi Sumber Devisa Penting
Selain perdagangan resmi, Korea Utara memperoleh pemasukan besar melalui berbagai aktivitas ekonomi yang tidak sepenuhnya tercatat dalam sistem perdagangan internasional.
Salah satunya adalah pengiriman tenaga kerja ke luar negeri yang bekerja di sektor konstruksi, perikanan, industri, dan kehutanan.
Ribuan Pekerja di Luar Negeri Jadi Penyumbang Pendapatan Negara
Banyak pekerja Korea Utara ditempatkan di negara seperti Rusia dan China. Sebagian besar penghasilan mereka disetorkan kembali kepada pemerintah sebagai sumber devisa negara.
Praktik ini telah lama menjadi perhatian komunitas internasional karena dianggap memiliki unsur eksploitasi tenaga kerja.
Operasi Siber Jadi Mesin Uang Baru Korea Utara
Dalam beberapa tahun terakhir, aktivitas siber menjadi salah satu sumber pemasukan terbesar bagi Pyongyang. Korea Utara diketahui memiliki jaringan peretas yang sangat aktif dan canggih.
Kelompok siber yang diduga terkait pemerintah sering dikaitkan dengan berbagai aksi pencurian aset digital dan serangan terhadap sektor keuangan global.
Pencurian Kripto Bernilai Miliaran Dolar
Laporan sejumlah lembaga keamanan siber menunjukkan bahwa peretas Korea Utara berhasil memperoleh miliaran dolar dari pencurian mata uang kripto dalam beberapa tahun terakhir.
Dana tersebut diyakini menjadi salah satu sumber pembiayaan penting bagi program strategis negara, termasuk pengembangan teknologi militer.
Hubungan dengan Rusia Beri Suntikan Dana Besar
Selain China, Rusia kini menjadi mitra penting bagi Korea Utara, terutama sejak meningkatnya kerja sama di tengah konflik Ukraina.
Pyongyang disebut memasok berbagai kebutuhan militer kepada Moskow, termasuk amunisi dan rudal, yang menghasilkan pemasukan besar bagi pemerintah Korea Utara.
Pendapatan Digunakan untuk Program Strategis
Sejumlah laporan menyebut kerja sama dengan Rusia menghasilkan miliaran dolar bagi Korea Utara sejak 2023. Dana tersebut diduga digunakan untuk memperkuat program pertahanan, termasuk pengembangan senjata nuklir dan rudal balistik.
Selain keuntungan finansial, Korea Utara juga disebut memperoleh manfaat lain berupa pasokan energi dan kebutuhan pangan yang membantu menjaga stabilitas ekonomi domestik.
Mampukah Korea Utara Bertahan Tanpa China?
Melihat besarnya ketergantungan terhadap pasokan energi, perdagangan, dan kebutuhan pokok dari China, banyak pengamat menilai ekonomi Korea Utara akan menghadapi tekanan berat jika hubungan dengan Beijing terganggu.
Meski Pyongyang memiliki sumber pendapatan lain seperti ekspor terbatas, tenaga kerja luar negeri, operasi siber, dan kerja sama dengan Rusia, peran China masih menjadi fondasi utama yang menopang perekonomian negara tersebut.
Tanpa dukungan Beijing, kemampuan Korea Utara untuk menjaga stabilitas ekonomi, memenuhi kebutuhan energi, serta mempertahankan aktivitas industrinya diperkirakan akan menghadapi tantangan yang jauh lebih besar.
