Spectrom.co.id – Presiden Donald Trump memberi isyarat bahwa kebijakan luar negeri Amerika Serikat dapat beralih ke Kuba setelah konflik yang sedang berlangsung dengan Iran berakhir. Pernyataan tersebut disampaikan Trump dalam sebuah acara di Gedung Putih saat menyambut tim sepak bola Inter Miami CF.
Dalam kesempatan itu, Trump menyatakan pemerintahannya ingin terlebih dahulu menyelesaikan konflik di Timur Tengah sebelum fokus pada situasi di Kuba.
Trump Sebut Kuba Bisa Jadi Fokus Berikutnya
Saat berbicara di Gedung Putih, Trump menyampaikan bahwa setelah operasi militer yang melibatkan Iran selesai, perhatian pemerintahannya kemungkinan akan beralih ke negara Karibia tersebut.
Pernyataan Disampaikan di Acara Gedung Putih
Trump mengungkapkan bahwa Washington saat ini memprioritaskan penyelesaian konflik yang sedang berlangsung dengan Iran. Namun ia menegaskan bahwa langkah terkait Kuba hanya tinggal menunggu waktu.
Menurutnya, pemerintah AS melihat perkembangan situasi di Kuba sebagai sesuatu yang penting untuk diperhatikan dalam agenda kebijakan luar negeri berikutnya.
Dalam acara tersebut, Trump juga memuji Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, yang disebutnya telah bekerja keras menangani isu terkait Kuba.
AS Perketat Tekanan Ekonomi terhadap Kuba
Sejak beberapa waktu terakhir, pemerintahan Trump diketahui meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Kuba melalui berbagai kebijakan sanksi.
Penghentian Pasokan Minyak Venezuela
Salah satu langkah yang dilakukan adalah menghentikan aliran minyak dari Venezuela ke Kuba. Pasokan energi dari Venezuela sebelumnya menjadi sumber penting bagi perekonomian negara tersebut.
Langkah itu berdampak pada kondisi energi di Kuba, yang mengalami krisis listrik dan keterbatasan bahan bakar.
Trump bahkan menyebut bahwa situasi ekonomi di Kuba semakin sulit setelah dukungan energi dari Venezuela terputus.
Trump Klaim Operasi Militer AS Berhasil
Dalam kesempatan yang sama, Trump juga membahas operasi militer yang dilakukan AS bersama sekutunya di Iran.
Trump Sebut Militer AS Sangat Kuat
Ia menyatakan bahwa kekuatan militer AS yang dibangun sejak masa jabatan pertamanya telah memainkan peran penting dalam berbagai operasi internasional.
Trump menambahkan bahwa meskipun ia tidak selalu ingin menggunakan kekuatan militer, pengalaman menunjukkan bahwa langkah tersebut sering kali dianggap efektif dalam mencapai tujuan kebijakan luar negeri.
Pernyataan Trump tersebut memicu spekulasi mengenai kemungkinan perubahan arah kebijakan geopolitik AS setelah konflik Iran mereda.










